Bedah Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia”

Bedah Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia”

Dear, para pecinta literasi, kali ini informasi terkini dari Area Sumatera yaitu acara Bedah Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia.” Acara yang berlangsung secara virtual yang digagas Manajer Area Sumatera, Mbak Emmy Herlina ini diselenggarakan tanggal 9 Agustus 2021 pukul 19.30 WIB.

Bedah buku dibuka oleh MC Deril Zet atau yang kerap disapa Kang Zamzam kemudian dilanjutkan oleh Mbak Emmy Herlina, dan beberapa nara sumber yang telah ditunjuk beberapa hari sebelumnya untuk berbagi pengalaman mereka. Acara bedah buku ini, digelar untuk merayakan momen spesial Milad Area Sumatera dan Milad founder Rumah Media, Ilham Alfafa.

Acara ini diikuti lebih dari 30 penulis Indonesia dari berbagai daerah, terutama yang pernah mengikuti event nulis bareng Rumah Media dan masyarakat umum. Selain Mbak Emmy Herlina, acara bedah buku menghadirkan tiga Manajer Area, Manajer Area Sumatera, Manajer Area Jabar (Rhea Ilham Nurjanah) dan Manajer Area luar negeri (Re Reynilda).

Mbak Emmy Herlina mengatakan, “acara ini sangat spesial. Ini bedah buku yang pertama kalinya untuk buku-buku Nubar, karena dua buku ini adalah event spesial Milad.”

Selain itu, Mbak Emmy Herlina sangat mengapresiasi seluruh peserta yang meluangkan waktunya untuk hadir dalam acara ini, “Saya sangat berterima kasih atas kehadiran semua peserta bedah buku dan semua nara sumber yang hadir. “

Tak hanya itu, Mbak Emmy Herlina juga merasa terkesan dengan kehadiran founder Rumedia, Ilham Alfafa, dalam acara bedah buku “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia”

Nubar Area Sumatera dan Produk Rumah Media

Sebagaimana diketahui, Nubar “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia” ini bagian dari produk dari Rumedia, yang langsung di-PJ oleh Mbak Emmy Herlina. Oleh karena itu, dalam momen spesial ini, Mbak Emmy Herlina juga mengenalkan beberapa produk dari Rumedia lainnya seperti, SBMB (Sehari Bisa Menulis Buku) dengan beragam materi, Seminar penerbitan, Desain Cover dan Lay out Buku. Produk Rumedia juga ada Nubar – Nulis Bareng, Nubar Pro, Deejay Training Center, PenCil- Penulis, dan Cilik, Kalam Media Dakwah. Seluruh karya Nubar maupun buku solo yang diterbitkan Rumedia juga tersedia E-booknya dan dimasukkan dalam google play store.

Menurut Mbak Emmy Herlina, penerbit Rumedia memberikan kesempatan pada kontributor untuk menulis di website Rumedia tepatnya di www.rumahmediagrup.com dan www.nubarnulisbareng.com. Syaratnya, kontributor mesti bisa konsisten. Keuntungannya,  kontributor akan mempunyai kesempatan untuk mempunyai website sendiri.

Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia”

Seperti dikemukakan di atas, kedua buku ini adalah spesial milad. Nah, Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara” dibuat dalam rangka memperingati milad Pak Ilham Alfafa tahun 2020. Sementara buku “Mi Familia” ini menandai peringatan Milad Nubar Sumatera yang kedua, tahun 2020.

Mbak Emmy Herlina menyampaikan dirinya mengambil tema “cinta” dalam tiap Nubar, karena menyukai sesuatu yang berhubungan tentang cinta. Demikian pula dengan buku “Ada Cinta di Tiap Aksara.”

“Saya ingin menyampaikan bagaimana proses menjadi menulis. Intinya buku ini melukiskan cinta literasi. Jadi, buku ini menyajikan banyak tips dari tiap penulis, baik penulis blog, penulis buku, dan lainnya.” jelas Mbak Emmy Herlina.

Buku “Ada Cinta di Tiap Aksara” ditulis oleh17 penulis dari berbagai latar belakang. Mbak Emmy Herlina sendiri menulis tentang “Curahan Hati Sang Penulis Serampangan.” Mbak Emmy Herlina mengaku, dirinya menulis masih tergantung mood.

Adapun peraih naskah terbaik dari buku ini dalah Mbak Dewi Adikara, yang berjudul “Aksara Seorang Pendiam” disusul Mbak Endah Sulistiowati sebagai runner up.

Buku berikutnya adalah “Mi Familia”yang ditulis oleh 18 penulis. Mbak Emmy Herlina mengatakan, buku ini berdasarkan pengalaman sebelumnya menjadi PJ di Area Jawa Barat. Inti buku ini adalah cinta keluarga dan terinspirasi dari film Coco judulnya Mi Familia.

Adapun peraih naskah terbaik dalam buku ini jatuh kepada Mbak Ade Tauhid dengan judul “No Party of The Year” disusul oleh juara 2 Mas Iyon Sg dan Mbak Re Reynilda sebagai juara 3. Selamat ya, buat semua pemenang.

Menurut Mbak Emmy Herlina, walaupun proses pengumpulan kontributor, mengumpulkan naskah buku “Ada Cinta di Tiap Aksara” menghadapi kendala sehingga memakan waktu yang cukup lama, tapi Mbak Manajer Area Sumatera ini sangat bersyukur akhirnya dapat melanjutkan proses buku ini hingga naik cetak. Kebanggaan tersendiri bagi Mbak Emmy Herlina, karena pemilihan naskah terbaik untuk kedua buku ini melibatkan founder Rumedia Ilham Alfafa.

Sharing Pengalaman Menulis

Acara bedah buku makin panas, ketika beberapa naras umber mulai berbagi pengalaman mereka dalam menulis. Rhea Ilham Nurjanah selaku Manajer Area Jawa Barat berbagi pengalamannya sebagai MA maupun PJ. Penulis yang satu ini sangat konsen dalam menulis berupaya mematahkan mitos bahwa menulis itu bukan bakat. Sebenarnya, menulis adalah proses yang diawali sejak kecil dan terus dilatih, dengan membuat tulisan-tulisan kecil. Tips Mbak Rhea Ilham Nurjanah, bagusnya lagi, tiap ide yang mengalir segera tuliskan. Menurut Mbak Rhea Ilham Nurjanah, dengan menulis baru bisa membuatnya tidur nyenyak.

Peserta yang mendapat kesempatan untuk sharing pengalamannya menulis adalah Re Reynilda yang juga runner up buku “Mi Familia” mengawali sharing-nya dengan membacakan sebuah monolog dari naskah yang ditulisnya. Mbak Re Reynilda ingin menyampaikan pesan, bahwa seorang ibu bisa salah, bisa kalah. Namun, tetap mengambil hikmah dan minta maaf. Menurut Mbak Re Reynilda, menulis butuh belajar dari kesalahan tulisan yang dibuat, harus fokus dengan tema, tidak bercabang, membuat out line, dan terus rajin latihan.

Selanjutnya ada Endah Sulistiowati yang berbagi pengalamannya sebagai runner up buku “Ada Cinta di Tiap Aksara.” Menurut Mbak Endah Sulistiowati, menulis jangan dijadikan beban tetapi jadikan kebutuhan. Selain itu, menulis bertujuan untuk menebar kebaikan, menjadi motivasi dan inspirasi bagi orang lain. Menulis sebagai investasi, menjadi pahala jariyah bagi penulis.

Giliran Mbak Wawang Yulibrata sebagai penulis “Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia” mengawali sharing-nya dengan gegar otak sehingga membuatnya kehilangan aksara tahun 2019 hingga membuat Mbak Wawang belajar menulis kembali kalimat yang runut. Seorang konselor menyarankan Mbak Wawang untuk menulis lima menit tiap hari. Mbak Wawang mengaku, awalnya sulit, tapi seiring waktu dan kebiasaanya menulis membuat Mbak Wawang ketagihan, bahkan merasa plong. Menulis bagi Mbak Wawang, seperti mengosongkan ransel emosi.

Sementara buku “Mi Familia” Mbak Wawang mengatakan sangat senang menulis pengalaman uniknya dalam buku ini. Mbak Wawang melanjutkan pemaparannya, bahwa keluarga adalah hal yang paling berharga. Dalam buku ini, Mbak Wawang mengisahkan pengalamannya ketika tinggal di Bangkok dengan beberapa anak, yang mana bagi masyarakat setempat tidak banyak yang demikian. Budaya masyarakat di negara Bangkok, punya anak itu memakan biaya lebih besar dan karena itu cenderung lebih memilih memelihara hewan.

Dua nara sumber terakhir ada Mbak Rinaksih Widiarsanti atau yang kerap disapa Mbak Santi dan Pak Ilham Alfafa. Mbak Santi penulis buku “Ada Cinta di Tiap Aksara” memulai kisahnya di awal pandemi ketika pertama kali diajak Mbak Rere untuk ikut menulis dalam antologi Melepas KDRT 2 dan langsung mendapat piala sebagai naskah terbaik. Suatu yang tidak pernah terduga sebelumnya. Hal ini juga yang membuat Mbak Santi makin cinta dengan literasi.

Pak Ilham Alfafa sebagai founder Rumedia sekaligus menulis dalam buku “Ada Cinta di Tiap Aksara” mengatakan, penetapan naskah terbaik melalui penyeleksian, sebab semua naskah yang masuk sangat bagus. Dari beberapa nama yang dipilih, kemudian mengkrucut pada nama satu nama penulis yaitu Dewi Adikara. Dalam buku ini, Pak Ilham Alfafa juga membagi pengalamannya dalam menulis dengan judul naskah “Karena Aku Mencintaimu”

Founder Rumedia yang mengenakan kaos putih bergambar Sapardi Djoko Damono dari cover buku antologi “Jejak Sajak Abadi” mengatakan kecintaannya pada literasi sudah sejak lama.

“Mau bagaimana lagi, saya telah mencintai aksara sejak awal saya membaca dari koran bekas yang biasa dipakai buat membungkus gorengan.,”  

Pengalaman Pak Ilham dalam dunia literasi dimulai ketika usia pra sekolah. Pak Ilham kecil, mengumpulkan bekas bungkus gorengan tiada lain agar bisa membaca info yang disajikan kertas bungkus gorengan tersebut. Pada masa SMP, Pak Ilham Alfafa menulis puisi “Ibu” yang disadurnya dari lirik-lirik lagu Malaysia dan berhasil meraih juara satu. Berlanjut masa kuliah, Pak Ilham lebih memilih jurusan Bahasa Indonesia dan mengabaikan nilai-nilai Matematika yang selalu teratas. Pak Ilham lebih memilih menjadi sastrawan. Dari situlah, Pak Ilham terus menggeluti dunia tulis-menulis hingga melahirkan antologi puisi pertama tahun 2015 bersama Pak Dee Jay.

 Pak Ilham Alfafa melanjutkan pemaparannya dengan informasi sekilas sejarah Nubar yang dicetuskan Oktober, tahun 2015 yang menurutnya tidak semua orang tahu. Karena itu, Pak Ilham mulai mengkampanyekan nama Nubar yang dinamai 21 PK (Penulis Kreatif) kepada masyarakat lalu PMB (Projek Menulis Bersama) hingga menjadi Nubar.

Yang tak kalah menariknya acara ini, pada akhir kesempatan bedah buku ini, Pak Ilham Alfafa menyampaikan bahwa panitia penyelenggara dalam hal ini Manajer Area Sumatera akan memberikan door prize atau hadiah dan Pak Ilham Alfafa juga akan memberikan kaos Nubar “Ada Cinta di Tiap Aksara” kepada peserta yang aktif.

Antusias Peserta Bedah Buku

Acara bedah bukuAda Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia” makin terasa panas ketika peserta diberikan waktu untuk bertanya. Para peserta sangat antusias, terbukti beberapa pertanyaan terkait penulisan meluncur di kolom chat, bahkan bersambung di grup WA yang dibuat khusus untuk acara ini. Beberapa peserta yang menyampaikan pertanyaannya, ada Mbak Leila R. Niwanda yang menanyakan tips bagaimana menulis satu peristiwa dibuat beberapa tulisan. Petanyaan lainnya datang dari Mas Iyon Sg yang kadang menghadapi kendala karena suka pilih-pilih tema yang akan ditulis lantaran ingin punya daya pembeda.

Sementara Mbak Ria Fauzie mengaku kesulitan menulis ketika ide muncul tetapi sedang tidak mungkin menuliskannya, akhirnya jadi lupa. Oleh karena itu, Mbak Ria Fauzie mengatakan, “apa tips untuk ini?”

Mbak Nopi Ranti mengajukan pertanyaan untuk Mbak Rhea Ilham Nurjanah, “Apa tips keluar dari zona nyaman menulis?” Menurut Mbak Nopi Ranti, dirinya belum berani eksplore genre lain, karena masih nyaman menulis cerpen dan puisi.

Berikutnya, pertanyaan singkat diajukan oleh Mbak Nofita Sari yaitu, adakah waktu khusus luangkan ide?

Kemudian, ada Mbak Santi yang menyampaikan pertanyaan yang kerap ditujukan padanya, “Memang menulis gitu dapat duit banyak?” Kok, mau-maunya melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan banyak uang?”

Persoalan yang umumnya dialami peserta dan mengganggu dan dikeluhkan oleh peserta seperti pertanyaan yang datang dari Wenny, “Bagaimana tips hadapi mood yang macet. Padahal ide bertaburan di pikiran. Akhir-akhir ini memang sangat terpengaruh distress emphaty. Banyak yang konseling sakit parah, lengkap dengan keluarga dan kehilangan keluarga.”

Acara bedah buku Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia” berlangsung dua jam lebih ini, seolah tak ingin berakhir, peserta karena sebagian besar peserta masih menginginkan tambahan waktu agar bisa memperoleh ilmu kepenulisan dari pada nara sumber yang hadir. Namun, waktu jualah yang tidak memungkinkan, akhirnya Pak Zamzam menutup acara bedah buku ini.

Bedah Buku Aksara dan Familia

Selamat dan sukses selalu buat Mbak Emmy Herlina.

Juniawati

0Shares

Tinggalkan Balasan