Barang Bukti oleh Ade Tauhid

Barang bukti
By Ade Tauhid

Andin mendengus kesal, direbahkan tubuhnya kesofa dengan kaki menggantung.

Ini hari ketiga, tapi Andin belum juga bisa menemukan foto yang dicarinya.

Bolak balik album foto di hapenya di scroll keatas – di scroll kebawah berjam jam sampai jari jemarinya yang lentik itu berasa keriting, foto yang dicarinyapun belum ketemu.

“Lu punya enggak, di hape gue ilang tu fotonya. Kehapus kali.”tanya Andin ke Elsa lewat wasap

“Enggak ada loh. Coba tanya Al .”usul Mirna.

“Jangaaan.”
“Kenapa?”
“Nanti malah gagal rencana kita.”

Kemudian Elsa memutus wasap dengan emoji jempol.

Andin memandang ponselnya.

“Aih sudahlah. Mending aku mandi dulu, selesai mandi akan kucari lagi,”kata Andin dalam hati sambil beranjak menuju kamar mandi.

Sementara itu Elsa yang sahabat akrab Andin enggak hanya berpangku tangan, semua teman sudah dihubungi lewat wasap. Kecuali Al.

“Kalo sudah ketemu, kirim kegue ya!”
“Yoyoi.”
“Ok.”
“Sip!”

Tinggal nunggu nih, aku atau Andin yang akan mendapatkan Poto itu duluan.

Ditempat lain ketika Andin sedang membuka bukunya, hapenya berbunyi. Ting!

Wasap dari Mirna teman sekolahnya yang lain.

“Gue udah dapet.”tulis Mirna

“Mana, kirim kegue!”tulis Andin senang.
Tak lama kemudian foto yang dimaksud Andin terkirim.

“Ini, jangan lupa komisi buat gua.”tulis mirna dengan emoji tertawa.

“Sip! Thanks ya!”

Lalu tak menunggu lama Andin menelepon Elsa.

“Halo sa, gue udah dapet. Gue kirim ke elo ya.”

“Ha ha makasih ciiin. Akhirnya nggak bisa ngelak lagi cowok tiga itu.

Kemarin enggak ngaku, setelah ada bukti ini. Mau mengelak apalagi mereka?”kata Elsa tertawa puas.

“Iya enggak kasihan sama Bu kantin. Sampai enggak bisa jualan.”kata Andin

“Iya enggak sabar gue nunggu besok, ndin. Kita laporin sama Bu kepsek.”kata elsa

“Ok sampe ketemu besok ya.”kata Andin

“Yoyoi!”

Keesokan harinya, sesuai kesepakatan Andin dan Elsa menghadap Bu Sarah, guru bahasa Indonesia yang merangkap kepsek di SMAN dua tempat Andin dan Elsa sekolah.

Mereka mau melaporkan tindak kejahatan yang sudah dilakukan Al, Nino dan Rendi .

Yang sudah seminggu ini mereka curigai membuat kekacauan sehingga Bu kantin tak bisa berjualan seminggu.

“Ini buktinya Bu,” kata Andin sambil memperlihatkan sebuah foto yang sudah dicetak.

“Kalian yakin ini mereka?”tanya Bu Sarah

“Iya Bu.”jawab Andin dan Elsa hampir berbarengan.

“Duduklah, kita tunggu Al , Nino dan Rendi datang.”kata Bu sarah.

“Baik Bu.”
“Iya Bu.”

Tak lama Al, Nino dan Rendi datang.

“Selamat siang Bu, “kata Al setelah mengetuk pintu.
“Siang Bu.” Nino dan Rendi menyusul memberi salam.

“Duduklah.” Kata Bu sarah.

“Al, Nino dan kamu Rendi. Jawab dengan jujur pada hari Sabtu seminggu yang lalu , kalian berada dimana?”Tanya Bu Sarah sambil menatap satu persatu ketiga muridnya.

“Saya dirumah Bu, bantuin ibu saya diwarung.”jawab Al .

“Saya tidur Bu.”jawab Nino .

“Saya nganterin adik saya les Bu.”jawab Rendi.

“Tapi ibu dapat laporan kalian berada disuatu tempat yang sama hari Sabtu itu.”kata Bu Sarah tanpa basa basi.

“Enggak Bu.”
“Iya Bu.”
“Enggak Bu.”
Kata ketiga remaja itu gugup.

“Iya atau tidak.”tanya Bu Sarah galak.

“Iya Bu.”
“Eh enggak Bu.”
“Enggak ding!”

“Jawab yang benar!” Kata Bu Sarah semakin galak.

“Iya jangan bohong lu!” Kata Andin sambil berdiri.

“Iya kami ada buktinya.”kata Elsa menimpali.

“Bukti?”tanya Al dan Nino serempak.

“Bukti apa?”tanya Rendi .
Al, Nino dan Rendi menunduk, terpojok dan takut.

“Nih buktinya kalau kalian lah yang nyolong gas dan dua cerek.ibu kantin.”kata Bu Sarah sambil menunjukkan foto tiga orang yang dua orang sedang menggunakan helm berbentuk ceret dan satu orang lagi menggunakan helm berbentuk tabung gas warna hijau.

“Ini betul Poto kalian?”tanya Bu Sarah lebih galak dari tadi.

“Ini yang pakai helm gas hijau elu khan Al?”tanya Elsa.

“Dan yang kiri ini elu! Yang kanan elu yang pakek helm ceret bu kantin. Ngaku.”kata Andin gak kalah galak dari Bu Sarah.

“Iya iya.”
“Iya Bu maaf.”
“Maaf Bu iya.”
Jawab mereka mengaku salah.

“Kenapa kalian lakukan ini, apa kalian tidak kasihan sama Bu kantin?”tanya Bu Sarah lagi.

“Maaf Bu.”jawab Al.
“Kami hanya spontan saja, kami enggak niat nyolong kok Bu. Maksud kami nanti kalau kami sudah selesai kami akan kembalikan.”

Nino dan Rendi mengangguk setuju mengiyakan jawaban Al.

“Bagaimana kalian mau kembalikan? Ceret dan gas sudah kalian potong dan bentuk seperti helm begitu, bagaimana ibu kantin mau memakainya lagi?”tanya Bu Sarah . Lama lama geli juga melihat ketiga muridnya ini.
Kreatif sih tapi konyol.

“Ka .. kami akan gan .. ganti, Bu.”jawab Al, Nino dan Rendi gelagapan.

“Untuk apa helm helm itu?”kata Bu Sarah melunak.

“Kami nonton konser Bu, syaratnya kami boleh masuk gratis asalkan bisa memakai sesuatu yang unik.”jawab mereka.

“Tapi enggak segitunya kaleee! Masak lu colong ceret dan gas bu kantin?”kata Elsa gemes.

“Kasihan ibu kantin tauk! Gara gara kalian ibu kantin enggak bisa jualan seminggu!”kata Andin marah.

“Iya maaf …
“Maaf.”
“Maaf”

Al, Nino dan Rendi tertunduk malu. Dalam hati mereka menyesal, kenapa kok mereka nyolong gas dan ceret itu ditempatnya Bu kantin.

Mereka tidak pernah berpikir panjang, kalau itu amat merugikan ibu kantin yang penghasilannya pas pasan.

“Maafkan kami bu.”kata Al.

“Lain kali kami tidak akan nyolong ditempat Bu kantin lagi.”kata Nino.

” Hmmm bagus!”sahut Andin.

“Iya lain kali kami nyolongnya dirumah Andin atau Elsa aja ya Bu.”kata mereka sambil kompak kabur. Karena mereka sudah dikejar dua cewek cantik itu keluar ruangan.

“Kiyaaa!!
😀😀😀

Bandarlampung, Sabtu 18 Des 2020

0Shares

Tinggalkan Balasan