Bapakku oleh Ade Tauhid

Bapakku
By Ade Tauhid

Bapakku itu baik, sangaaat baik. Bapak tidak pernah marah meski aku nakal, ngejengkelin, tidak nurut dan bandel.

Bapak itu bisa menjinakkan aku, lo. Bapak akan mengelus pundakku dan selalu mencium keningku.

“Selalulah menjadi perempuan baik,” kata Bapak.

Bapakku itu bukan orang yang suka memaksakan kehendak, sifat Bapak mengalir seperti air.

Bapak itu sangat demokrasi sekali. Dia mendengarkan saat aku komplain, dan dia tetap tersenyum meski tadi ternyata aku yang salah saat komplain.

Bapak itu pemaaf, dia tidak pernah mengajarkan dendam. Kalau aku mau tidur malam, Bapak selalu menyempatkan datang ke tempat tidurku dan bilang, maafkan orang sekitarmu yang sudah menzalimi baru deh, aku disuruh baca, “bismika Allahuma ahya wabismika amut”.

Bapakku cinta pertamaku.
Bapak adalah lelaki terhebat yang pernah kukenal di dunia ini.

Bapakku itu sederhana, namun Bapak bersahaja.

Bapak memang tidak banyak uang. Tapi aku tidak pernah hidup menderita ataupun sengsara. Aku hidup bahagia bersama sekeluarga, Kakak dan Ibu di rumah Bapak, Bapak selalu membuat aku senang dan bahagia.

Bapak itu temannya banyak, Bapak itu dulu seorang tentara. Tegas dan berwibawa.

Tapi meski tegas, Bapak enggak pernah marah sama aku. Bapak juga seorang pengajar, guru dan idolaku.

Meski Bapak termasuk orang zaman dulu tapi apa sih, yang Bapak enggak bisa? Bapak itu serba bisa. Bapak itu cerdas, bapak bisa mengajariku matematika, yang dulu ketika jamannya katanya namanya berhitung, Bapak juga bisa geometri, geografi, sejarah bahkan pelajaran menggambar dan bernyanyi.

Bagiku Bapak luar biasa, tak ada lelaki manapun yang menyamai Bapak.
Tiap akhir pekan, Bapak selalu mengajakku mencuci sepeda dan mencuci sepatuku yang kotor.

Bapak mengajariku agar aku tidak jadi orang malas. Orang malas itu rezekinya sedikit dan tidak disukai orang, begitu katanya.

Bapak mengajarkan disiplin, dari hal-hal kecil seperti tepat waktu tidur, tepat waktu belajar, salat dan bermain bersama teman.

Satu lagi, Bapak bilang, aku tidak boleh cengeng. Jangan menangis, jika itu tidak perlu. Bila air mata bisa mengubah sesuatu, maka aku boleh menangis.

Alhamdulilllah, berkat semua ajaran Bapak, aku tumbuh menjadi gadis yang tidak cengeng dan selalu ceria.

Aku tumbuh menjadi gadis yang easy going. Aku jadi perempuan yang paling pinter menyimpan air mataku meski aku harus berhadapan dengan drama Korea sekalipun.

Tapi sekarang, Bapak baru saja pergi. Meninggalkan aku untuk selamanya. Lantas bagaimana aku harus nurut Bapak agar aku tidak cengeng?

Bagaimana aku bisa menyimpan air mataku agar tidak tumpah? Bagaimana aku bisa?

Lelaki yang menjadi cinta pertamaku sudah tak ada lagi. Tolong, katakan padaku bagaimana caranya aku bisa menghentikan tangis ini? Sampai sekarangpun aku tak bisa menghentikannya.
Aku sangat mencintai Bapakku.

*Alfatehah buat Bapak dan Ibu

Bandar Lampung, Sabtu 07 November 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan