Difabel

Bangkit! Teruslah Lanjutkan Hidup (Athena Hulya)

Bangkit! Teruslah Lanjutkan Hidup

            Terkena kelainan tulang membuatku harus berteman dengan Rumah Sakit sedari kecil. Separuh masa kecilku dihabiskan di sana, di Rumah Sakit. Dalam sebulan empat sampai enam kali aku mengunjunginya. Mungkin kalau saja Rumah Sakit dapat berbicara mungkin ia akan berkata, “ya, ampun, dia lagi, dia lagi. Bosan sekali aku melihatnya.” Dari mulai dokter-dokter, ibu kantin dan bapak penjual cakwe depan Rumah Sakit mengenaliku, karena saking seringnya bertemu mereka.

            Deformitas Proximal Femur Sinitra menyebabkan perkembangan kaki kiriku menjadi tidak sempurna dan menjadi leg length discrepancy atau bisa disebut dengan perbedaan panjang tungkai kaki. Kelainan kaki kiriku disebabkan oleh suntikan imunisasi campak saat usiaku sembilan bulan, bisa dibilang aku adalah seorang korban malpraktik. Kata dokter yang menanganiku kelainan ini adalah kelainan langka yang hanya satu-satunya di dunia.

            Saat kecil, memakai tongkat dan brace adalah cara dokter untuk membantuku dapat berjalan dengan normal seperti anak kecil pada umumnya. Namun saat kutahu kalau kelainan ini tidak dapat disembuhkan, tidak dapat berjalan dengan normal selamanya. Aku memilih untuk tidak mengenakan kedua benda itu lagi. Pikirku kalau aku tetap memakainya sepanjang sisa hidup, aku akan terlihat sangat menyedihkan dan akan dipandang rendah oleh orang-orang yang melihatku.

Dibully dan direndahkan selalu mewarnai hari-hari dari mulai kecil hingga kuliah, itu menyebabkan kulebih suka mengasingkan diri dan tidak memiliki banyak teman. Sampai suatu ketika kubertemu dengan seseorang yang mengubah hidupku. Ia mengajarkan untuk tetap semangat di tengah keterbatasan. Mengajarkankan walau seberat apapun hidup, sebanyak apapun keterpurukan dan seberapa sering direndahkannya, aku harus tetap melanjutkan hidup.

Jatuh – bangkit – jatuh – bangkit lagi sampai segala kesakitan, keterpurukan, dan semua hal-hal buruk itu perlahan berjatuhan dan tersisa hal-hal yang baik saja. Saatku mulai merasa lelah akan nyinyiran yang kudapatkan dari orang-orang, selain mengingat perkataan dari seseorang itu, aku teringat akan lagu Yura Yunita – Merakit.

Keterbatasanku, jadi kelebihanku, jadi kekuatanku
Keistimewaanku
Tak apa terjatuh, bangkitlah dan tersenyumlah.

            “Tidak perlu malu memiliki kekurangan. Saat kau menggali kelebihan-kelebihanmu, lama-kelamaan kelemahan yang ada di dirimu yang orang lain lihat akan memudar dengan sendirinya. Berganti dengan senyum bangga terhadapmu. Di hidup bukan paras cantik dengan fisik yang sempurna yang membuat takjub namun hati yang cantik dan juga mampu mengubah kekurangan yang dimiliki menjadi kelebihanlah yang menjadikanmu orang yang dikagumi.

20 Juni 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan