Belenggu

Bangkit dengan Mencintai Diri Seutuhnya (Emmy Herlina)

Bangkit dengan Mencintai Diri Seutuhnya

Pernahkah kamu mengalami hal-hal berikut ini:

“Kenapa saya dibedakan perlakuan dengan saudara kandung saya yang lain? Sepertinya hanya saya sendiri yang enggak disayang.”

“Yang lain diajak main, saya, kok, enggak.”

“Kenapa setiap kali bekerja saya selalu dipindahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya? Kenapa saya tidak diinginkan.”

“Seorang atasan bahkan pernah mengatakan kepada saya, ada enggak ada saya sama saja.”

“Cuma saya seorang yang tidak pernah merasakan diberikan kejutan ketika ulang tahun, padahal saya bahkan ikut sokongan waktu merayakan ultah teman-teman.”

Bagai noktah tak terlihat. Seperti itulah dulu caraku memandang diri. Simak tulisan yang pernah saya rilis di Facebook berikut ini:

Unwanted Person

“Apakah kamu merasa bahwa dirimu tidak berharga?”

Perempuan itu lekas memilih klik tulisan “ya” untuk menjawab pertanyaan uji tingkat depresi kali ini. Ah, dia sudah mulai menemukan nilai diri sejak mencoba jalani hidup sesuai passionnya. Tapi ….

Sudahlah. Hasil ujian menandakan ada depresi ringan. Ternyata masih begitu, ya? Setelah terapi dan mencoba mengambil alih bahagia diri?

Ya. Bukan hal mudah memulihkan diri dari trauma pengabaian, kawan. Di satu titik dia bisa mengambil hikmahnya. Tapi dalam hitungan menit saja bukan tak mungkin kemurungannya kembali meraja.

Bagaimana, tidak? Seumur hidup perempuan itu terus-menerus merasa tidak diinginkan.

Lebih lengkap tulisannya di sini: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211837942168920&id=1381164009

Kalau dirunut kembali, saya menuliskan itu sudah dari dua tahun lalu. Dikarenakan facebook meminta saya “see your memories”, akibatnya tulisan ini kembali muncul di permukaan. Bertahun-tahun sebelumnya bahkan lebih parah.

Salah satunya adalah bahkan saya pernah mencoba praktik self injury, berulang kali. Yang pertama kali saya lakukan waktu masih duduk di bangku SD. Terbanyak ketika duduk di bangku kuliah. Terakhir kalinya nyaris melakukan itu kembali tahun lalu. Tapi alhamdulillah akhirnya bisa berhasil mengalihkan kepada pikiran lain yang membahagiakan.

Alasan yang sama akhirnya saya akan coba tulisan dalam suatu event antologi Nubar area Sulawesi bertemakan tentang bunuh diri yang sedang berlangsung. Sesuai juga dengan yang saya posting barusan di Instagram:

Salah satu tulisanku tentang Mencintai Diri Sendiri

Banyaknya trauma yang saya alami di masa lalu, tidak perlu banyak diceritakan. Sebagian bisa teman-teman baca langsung pada buku-buku yang saya tuliskan. Namun yang terpenting adalah, bagaimana cara untuk bangkit dengan memulai langkah mencintai diri sendiri.

Yang pertama adalah dengan menerima siapa diri kita sebenarnya. Sadari siapa diri. Apa yang diinginkan dalam hidup ini. Bagaimanapun kita semua memiliki pondasi yang sama yaitu sebagai seorang manusia. Ingat, manusia tidak ada yang sempurna.

Yang kedua, sadari, masa lalu adalah bagian dari hidup kita. Masa lalu boleh saja memiliki bagian yang menyakitkan dan tidak ingin kita ungkit kembali. Masa lalu tiap orang tidak sama, namun yakinlah semua pasti memiliki bagian ketidaksempurnaan dalam hidup masing-masing. Semua memiliki hal yang tidak ingin diingat-ingat kembali. Namun harus dengan gagah berani dihadapi.  

Yang ketiga, kenali emosi diri dan rangkullah kesemua emosi itu. Emosi adalah bagian dari diri. Emosi harus dialirkan, jangan dipendam yang malah akan menjadikan menumpuk bahkan menjadi penyakit bagi fisik. Pelajari cara me-release emosi, bukan hanya pada kejadian-kejadian yang baru saja terjadi, namun juga pada setiap jenjang kehidupan kita. Adakah emosi terpendam di masa lalu yang tak sempat terlampiaskan. Barangkali berupa amarah atau kesedihan yang ditahan. Beberapa memerlukan bantuan terapis untuk me-release emosi, maka lakukanlah. Bisa juga saya bantu hubungkan ke beberapa terapis yang saya kenal.

Yang keempat, temukan hal yang membahagiakan dan membuat Anda bersyukur setiap harinya. Catatlah dan renungkan betapa beruntungnya Anda bisa meraih hal-hal yang mungkin sulit diraih oleh orang lain.

Yang kelima, ingat baik-baik quote yang saya dapatkan dari beberapa pelatihan yang saya ikuti.

“Dirimu terlalu berharga untuk tenggelam di masa lalu, maka bahagialah untuk hari ini, esok, dan untuk orang-orang yang pantas kamu bahagiakan.”

Ada lagi … sebagai pengingat juga untuk saya pribadi:

“If you truly loved yourself, you could never hurt another.” (Buddha)

Bandar Lampung, 21 Juni 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan