Sumber: Pesona

Bahu yang Berguncang oleh Nopiranti

Bahu yang Berguncang

(Nopiranti)

Kenangan itu egois. Pada hal remeh temeh pun seenaknya saja ia singgah. Saat benak mengingatnya, seketika sulur-sulurnya mencengkeram kuat melilit setiap sudut ruang.

Kadang benak seperti digelitik geli saat teringat kenangan indah. Lalu tawa pun berderai renyah. Namun sering kali saat yang menyapa itu kenangan buruk, rinai air matalah yang diperas habis hingga terasa sesak dada menanggung rindu dendam.

Seperti kenangan yang hadir saat penciuman Firda mengendus aroma karbol dari cairan pembersih lantai. Seketika ingatannya mengembara pada tahun-tahun sulit itu. Saat Ibu harus bolak-balik masuk ruang perawatan rumah sakit.

Kanker usus stadium 4 telah merontokkan rambut Ibu yang hitam bergelombang indah. Juga menyebabkan tubuh Ibu yang tinggi besar itu menyusut sebanyak 28 kilo.

Aroma karbol itu sebetulnya menyegarkan. Firda suka. Namun sejak wangi itu selalu hadir pagi, siang, dan sore, menyapa ruangan tempat Ibu diawat, lama-lama membuat Firda merasa tersiksa.

Teringat Firda akan wajah tirus Ibu. Namun tetap bercahaya karena usapan air wudu atau debu untuk tayamum selalu menyapanya. Mata cekungnya yang sendu. Namun jarang terlihat meneteskan air mata, sesakit apa pun rasa yang dialami.

Masih jelas juga terbayang oleh Firda bibir Ibu yang kering dan mengelupas. Namun senantiasa ranum oleh zikir dan salawat. Pengalih fokus Ibu pada rasa sakit yang mencengkeram. Jemarinya yang membengkak bekas tusukan jarum suntik. Tetap lembut terasa saat Firda menciumnya setiap selesai salat. Telapak kakinya yang terasa dingin. Ibu selalu ingin diselimuti lalu dipijat atau diusap dengan lembut.

Ah, Ibu. Firda kangen. Meski waktu berlalu hampir 8 tahun sejak kepergianmu yang tenang subuh itu.

Yang tak kalah membuat Firda sesak akibat aroma karbol yang menyeruak menggelitik hidung adalah sergapan kenangan akan Bapak. Lelaki tangguh idola terhebat dan cinta pertama terbaik bagi Firda itu.

Selama Ibu sakit, Bapaklah yang paling tegar di antara semuanya. Memberi contoh supaya Firda dan kedua kakak laki-lakinya juga selalu terlihat tegar dan kuat, terutama jika sedang di depan Ibu.

Namun sore itu, Firda melihat pengecualian. Sesaat setelah Ibu membaik pasca kondisinya drop hingga dokter dan perawat sibuk berjibaku mengembalikan kesadaran Ibu, Bapak terlihat menangis!

Beliau berdiri membelakangi Ibu yang tertidur setelah diberi suntikan pereda sakit. Tangannya berpegangan pada lemari kecil di samping tempat tidur Ibu. Bahunya berguncang. Lalu lambat-lambat isaknya terdengar.

Tak ada yang berani mendekat kecuali Ustaz Zakaria, tetangga kami yang memang sedang datang menjenguk Ibu dengan rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu pengajian di kompleks rumah kami.

Ustaz Zakaria menepuk-nepuk lembut bahu Bapak yang semakin berguncang hebat. Air mata yang deras keluar seakan mengalirkan segala beban yang menghimpit batinnya selama ini.

Lelaki tangguh itu ternyata menyimpan duka yang sedemikian berat. Jiwa raganya ikut sakit ketika melihat belahan jiwanya semakin hari justru semakin layu dan melemah.

Sore itu menjadi pengingat bagi Firda bahwa Bapak dalam diam lisan dan kaku gerak tubuhnya, nyatanya menyimpan hati yang begitu mencintai Ibu. Cinta yang Bapak jaga dan pertahankan untuk Ibu seorang hingga maut memisahkan mereka. Hingga hari ini, sejak sewindu Ibu pergi, Bapak tak pernah berniat untuk menikah lagi.

Cinta Bapak sudah terpatri hanya untuk Ibu seorang. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali kelak di alam keabadian yang indah, di surga Allah. Aamiin ya Rabb.

Jumat, 13 November 2020.

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan