Bahasa Cinta Pasangan Berdasarkan Tes Stifin

Minggu, tanggal 30 Januari 2022, saya berkesempatan mengikuti webinar yang menarik. Judulnya Seminar Couple: Membahagiakan Pasangan Sesuai Genetik. Pembicaranya Bapak Abdul Latif, biasa dikenal dengan sebutan Abah Latif. Pertama dapat info adanya seminar ini saya sudah yakin, pasti akan menarik. Karena sebelumnya saya sudah pernah mengikuti webinar lain dengan pembicara yang sama, tapi bertemakan parenting. Bagaimana gambaran isinya, yuk kita simak.

Seminar Couple Abah Latif

Abah Latif membuka acara dengan menarik. Begini katanya. Bahwa cinta sejati itu hanya hadir dalam pernikahan. Kalau baru sebatas pacaran belum bisa dikatakan cinta sejati. Senada bahwa Islam melarang pacaran. Terlebih karena pacaran belum tentu jadi jodoh yang akhirnya setelah menikah, bayang-bayang semasa pacaran masih teringat.

Wah, benar banget. Cinta itu memang adalah yang berlabuh di pernikahan. Saya pun berpendapat yang sama. Meski saya akui telah melalui kesalahan di masa lalu, tapi kini saya sudah memahami kebenarannya setelah jatuh bangun itu.

Lalu, Abah Latif melanjutkan penjelasan. Ada beberapa ciri suami sholeh dan istri sholehah.

Ciri Suami Sholeh antara lain: menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, berkata lemah lembut pada istri, membimbing dan menghargai istri, menjaga keromantisan dengan istri, tidak mudah cemburu dan mampu menjadi pemimpin keluarga.

Sedangkan, ciri Istri Sholehah antara lain: mensyukuri nafkah suami, berhemat, tidak berlebih-lebihan, tidak menuntut, serta mampu menjaga harta suami.

Begitulah. Memang sebaiknya kita perlu mengenali karakter diri dulu, kemudian karakter pasangan untuk membangun hubungan yang baik. Bagaimana caranya? Ini dia.

Untuk mempermudah maka ada pembagian kecerdasan manusia berdasarkan kecondongan otak, yang biasa disebut Stifin. Pembagian kecerdasan ini dibagi menjadi:

  1. Sensing (Neokortek kiri bawah).
    Chemistrinya adalah harta. Dan tidak melulu cuan, tapi intinya transaksional. Misalnya saat berhubungan dengan orang lain, dia akan berpikir apa manfaatnya bagi dia.
  2. Thinking (Neokortek kiri atas)
    Chemistrinya adalah tahta. Pandai menganalisis segala sesuatunya. Dikenal sebagai problem solving. Karena dia akan tertantang menaklukkan masalah.
  3. Feeling (Limbik kanan bawah)
    Chemistrinya adalah cinta. Orang yang mengandalkan emosinya. Jika berbuat sesuatu dia akan berpikir, orang lain akan suka atau tidak. Orang yang mudah menebarkan aura persahabatan.
  4. Intuiting (Limbik kanan atas)
    Kreatif dan inovatif. Chemistrinya adalah kata. Orang yang paling kreatif pandai berkata-kata.
  5. Insting (tengah)
    Chemistrinya adalah bahagia. Serba bisa. Namun, serba bisa tidak sempurna. Karena kadang setelah menekuni sesuatu dengan mudah ia tinggalkan untuk mencoba sesuatu yang lain. Dia hanya butuh segala sesuatu secukupnya saja, yang penting dia bahagia.

Kelima hal ini bisa dipastikan melalui tes sidik jari. Yang kita kenal sebagai tes Stifin. Terkadang setelah keluar hasil tes, keluar hasil yang ternyata berbeda dengan sikap kita keseharian, maka perlu digali lagi. Biasanya karena belum memaksimalkan potensi yang ada.

Sebagai contoh, kita bertemu sensing yang tidak rajin, perlu digali lagi apakah dia rajin berolahraga, karena kebutuhan Sensing harus rajin berolahraga. Atau malah saya pribadi, karena saya sudah melakukan uji Stifin ini. Awalnya saya mengira saya seorang feeling karena mudah baperan, terbawa emosi bahkan distress emphaty juga. Kalau mendengar kabar duka, saya akan memposisikan seolah saya mengalaminya. Itu efek karena saya seorang HSP (Highly Sensitive Person). Dan setelah dites ternyata, hasilnya malah Thinking. Seorang dominan logika.

Intinya, seorang yang belum memaksimalkan kecerdasan otaknya dikarenakan ada hal yang belum dimaksimalkan. Bisa jadi traumatis di masa lalu, yang harus dicari jalan keluarnya. Ini juga ternyata yang saya alami.

Bagaimana peran dalam kelima tipe kecerdasan ini di dalam keluarga, yaitu:

  1. Sensing: mengaktifkan tradisi. Tradisi yang sudah dia ketahui akan diaplikasikan di keluarganya.
  2. Thinking: melembagakan kekuasaan. Disiplin menerapkan jadwal. Kalau ada yang tidak sesuai jadwal maka dia harus diberi kejelasan kenapa hal itu bisa terjadi.
  3. Intuiting: perannya dalam keluarga yaitu membuat program untuk masa depan. Dia akan merencanakan segala sesuatu secara terinci untuk masa depan lebih baik.
  4. Feeling: membangun kedekatan keluarga. Yang terpenting adalah keakraban antar anggota keluarganya.
  5. Insting: perannya melengkapi apa yang kurang. Karena insting adalah serba bisa.

Lalu, untuk bahasa cinta kelima tipe ini, bagaimana? Ini dia:

  1. Sensing: beri hadiah kejutan. Karena orientasi pada harta, bisa jadi hubungan berbeda saat sudah gajian atau belum gajian.
  2. Thinking: pahami cinta dengan berinisiatif memenuhi kebutuhannya. Tanpa perlu meminta sudah inisiatif memenuhi kebutuhan pasangan.
  3. Intuiting: luangkan keromantisan meski hanya sebentar, yang penting waktu berkualitas.
  4. Feeling: jika jatuh cinta dari hati paling dalam maka penuhi stok cintanya. Begitu pula sebaliknya, apabila membenci dari hati paling dalam juga. Kebutuhannya adalah 3P: Perhatian, Pujian dan Persahabatan.
  5. Insting: lengkapi dengan membahagiakan dirinya.

Cara komunikasi masing-masing tipe kecerdasan ini berbeda lho. Bagaimana cara berkomunikasinya?

  1. Sensing: beri kepastian dengan fakta. Jangan beri janji kalau tidak bisa menepati, karena pasti ditagih. Sebelum menyuruh anak yang Sensing, kasih contoh dulu. Kalau orang tua belum melakukan, jangan harap bisa menyuruh anak Sensing. Informasi yang disampaikan juga harus runut. Sensing agak sulit jika diminta membayangkan sesuatu. Karena percaya pada hal yang bersifat konkret. Maka, beri contoh pengalaman nyata, dan tekankan pada hal yang bersifat praktis. Beri apresiasi pada hal bersifat fisik dan penampilan.
  2. Thinking: tunjukkan fakta dan logika, sampaikan secara fokus dan tagih hasilnya. Dalam menyampaikan kepada thinking, ngomong harus serius, jangan sambil lalu. Pakai skema sebab-akibat dan konsekuensinya. Misal dalam menjelaskan bahwa hidup itu bebas memilih, tapi selalu ada konsekuensi pada pilihan kita itu. Harus jelas. Tekankan pada pikiran bukan apa yang ia rasakan. Beri rekognisi usaha dan prestasinya. Dia butuh penghargaan pada apa yang sudah dia kerjakan.
  3. Intuiting: bicarakan konsep garis besarnya, sampaikan kemungkinan dan alternatif lainnya. Karena Intuiting perlu arahan yang jelas. Gunakan juga analogi dan metafora dalam berkomunikasi. Gugah imajinasi dan kreativitas untuk di masa depan. Beri juga ia bantuan dalam menjahit narasi dalam ide-idenya.
  4. Feeling: beri perhatian dan kepedulian, sediakan waktu khusus untuk curhatnya. Gunakan komunikasi penuh perasaan. Jadi benar-benar fokus memperhatikannya, berikan senyum dan kontak mata. Berikan legitimasi rasa, misalnya, “iya, saya ikut merasa sedih.”
  5. Insting: langsung menjawab yang ditanya, jangan muter-muter. Hindari penekanan dan keributan dalam komunikasi, Jangan menginterogasi. Gunakan hikmah dan inspirasi, karena Insting ini spiritualitasnya tinggi. Insting mudah mengambil kesimpulan.
Contoh Bahasa Cinta untuk pasangan Feeling

Ingat hal ini, ya:

Pada pasangan sensing, jadilah sparring, jabat tangan, persahabatan, menjadi partner untuk pasangan sensing. Komunikasi seperti teman.

Pada pasangan thinking, leading, ownership dan jadilah tangan kanan. Yaitu jadilah orang kepercayaan bagi Thinking.

Pada pasangan intuiting, bahasanya mentoring, cukup memberi arahan (directship). Jadilah penunjuk arah yang baik untuk intuiting.

Pada pasangan feeling, bahasanya supporting, dukunglah ia menjadi partner dan sahabat. Jadilah ringan tangan dan langsung menolongnya saat ia membutuhkan.

Pada pasangan Insting, bahasanya climbing, worship. Totalitas pada pasangan. Singkat kata: Bucin. Apa mau pasangan hampir semuanya dituruti.

Kira-kira seperti itulah. Jadi, memang harus dikenali dulu seperti apa karakter kita dan karakter pasangan. Kemudian bahasa komunikasi nanti bisa disesuaikan. Dengan memahami dan menyesuaikan bahasa dengan tipe kecerdasan pasangan kita, maka komunikasi ke depan semakin lancar. Hubungan suami istri pun insya Allah akan menjadi lancar juga.

Mentor parenting yang ini juga punya cara seru menjaga keromantisan suami istri. Simak, yuk!

Saya jadi teringat pernah membaca di suatu tempat.

“Silakan jika ingin memillih pasangan berdasarkan penampilan. Namun, ketahuilah, kamu akan hidup dengan karakternya seumur hidup. Sedangkan, penampilan adalah suatu hal yang bisa diubah. Karakter tidak mudah diubah.”

Luar biasa. Senada dengan event Nubar-Nulis Bareng yang sedang berlangsung saat ini. Membangun Cinta Bukan Sekadar Jatuh Cinta. Membangun cinta adalah jalan yang penuh rintangan, berlangsung seumur hidup demi keberlangsungan rumah tangga kita. Maka benarlah, pernikahan itu separuh agama, karena mempertahankannya itu perlu perjuangan, mempertahankannya adalah sebuah ibadah. Dan salah satu usaha kita dalam menjaga keberlangsungan itu yaitu dengan belajar memahami dan menyesuaikan karakter satu sama lain.

Lalu, untuk teman-teman yang belum dan ingin mengetahui karakternya masing-masing berdasarkan stifin, bisa menghubungi promotor di wilayah terdekat. Karena cek sidik jari ini belum bisa dilakukan secara online, harus secara langsung. Untuk wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya, bisa saya arahkan ke promotor Stifin yang saya kenal. Sedangkan dari wilayah lainnya, nanti bisa saya bantu cari tahu, ya.
Keren banget kan, ilmu dari Abah Latif ini. Semoga bermanfaat ya, teman-teman.

Bandar Lampung, 30 Januari 2022

nubarnulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

8 comments

  1. Wah saya tipe yang apa yaa..
    Info yang sungguh menarik dan bermanfaat ini. Membantu memahami pasangan dan diri kita sendiri juga sebenarnya.
    Setuju sekali bahwa penampilan itu sesuatu yang bisa kita ubah dengan mudah,tapi karakter utama itu yang perlu waktu untuk membuatnya bertahan.
    Terimakasih sharingnya,mbak 🙂

  2. aku bacanya sambil mikir, kalo aku bahasa cintanya apa ya? wkwkwk. Kalo kita bisa pahami bahasa cinta ini, insyaAllah hidup jadi bahagia karena bisa saling menyenangkan pasangan. Setuju banget bahwa pernikahan itu dibangun melalui belajar penyesuaian karakter satu sama lain.

  3. ilmunya penting banget nih buat membantu para pasangan untuk mengenali dan memahami karakter diri sendiri juga pasangan. supaya bisa saling menyenangkan satu sama lain. aku jadi kepo juga nih aku ini bahasa cintanya apa yaa??

  4. Aku memikirkan kira-kira apa ya bahasa cintaku menurut stifin. Karena kupikir kan stifin ni cuma untuk dunia bisnis gitu. Atau seenggaknya untuk menentukan apa posisi yang cocok untuk seorang staff. Gitu nggak ya?

  5. Dulu pas masih single ikut bbrp ta’aruf jg disaranin pake STIFIN ini katanya biar tau cocok apa enggak dan tahu karakter masing-masing.

    Berhubung lumayan mahal saya gak sempet ikut tesnya hihi. Tapi penasaran juga sih sama hasilnya. Makasih ya Mba sharingnya.

  6. Memang penting untuk mengetahui karakter diri sendiri serta pasangan, sehingga kita bisa saling memahami, saling mengerti dan akhirnya makin mudah dalam berkomunikasi.
    Tips nya oke banget Mbak Emmy.
    Sangat bermanfaat.

Tinggalkan Balasan