Badai Dalam Sunyi oleh Nopiranti

Badai Dalam Sunyi
(Nopiranti)

Jika saja suara hati ini bisa kau dengar, pasti gemuruhnya akan sangat memekakkan telinga. Aku berteriak sekencang mungkin. Aku menangis hingga terasa parau suaraku. Tapi tak ada yang peduli. Lebih tepatnya tak ada yang bisa menyadarinya. Aku berduka. Ada perih, luka menganga yang sungguh teramat sakit aku rasakan. Dalam diam, ragaku yang lemah tak mampu bergerak ini, aku menerima hukuman atas semua khilaf.

Berkelebat semua bayangan kisah masa lalu. Seorang anak yang begitu keras kepala dan keras hati. Sapaan orang tua dibalas belalak mata. Pertanyaan orang tua disambut nada suara tinggi penuh kekesalan. Nasihat orang tua ditanggapi dengan amarah. Bahkan wasiat orang tua pun dilanggar, dianggap angin lalu. Hingga seucap kata mereka yang begitu kecewa, mewujud nyata menjadi onak dan duri dalam perjalanan hidup.

Sungguh penyesalan ini begitu menyiksa. Hingga terasa merontokkan tulang belulang. Aku telah mengalami hisabku bahkan sebelum nyawa sampai di tenggorokan.

Enam bulan sudah serangan stroke membuatku lumpuh. Setelah sore itu aku terjatuh di kamar mandi dan kepalaku membentur lantai dengan keras. Sesaat semua terasa gelap. Hingga akhirnya cahaya itu bisa kembali kutatap. Satu minggu kemudian setelah aku tersadar dari koma dan mendapati sekujur tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Hanya berkedip dan mengangguk saja yang mampu kulakukan untuk merespon sekeliling.

Sedih, kecewa, marah, dan takut sekali. Hari-hari kulalui di atas kasur yang terasa seperti bara yang panas mengelupas kulit punggungku. Sekeliling pengap menyesakkan dada. Terlebih saat melihat sikap dan perlakuan anak menantu yang begitu dingin dan ketus.

Tak nampak raut belas kasih di wajah mereka. Belalak mata kesal dan rentetan sumpah serapahlah yang menjejali pandang dan pendengaranku. Persis seperti yang dulu sering aku lakukan pada Ibu dan Bapak.

Tak kudapati belaian kasih dan hiburan penyemangat mereka. Suara bantingan barang dan hentakan kasar di tubuhku, itulah yang mereka persembahkan untukku. Sama seperti dulu aku bersikap pada Ibu dan Bapak.

Tak ada tangis penyesalan atau ucap kata maaf setiap kali mereka menyakitiku dengan kata dan perilaku buruk. Sebaliknya, mereka justru menyalahkanku, menganggap aku beban dan benalu yang sudah mengganggu ketenangan hidup mereka. Tak jauh beda dengan apa yang dulu aku sampaikan pada Ibu dan Bapak.

Dalam sunyi ini, aku sendiri membaca lembar demi lembar kisah masa laluku yang kelam. Yang belum sempat aku perbaiki dulu karena dua sumber cahaya penghapus kegelapan itu telah lebih dulu berpulang ke alam keabadian. Mungkin membawa kesal dan sesal akan buah hati yang tak kunjung memperindah akhlak. Itu aku. Aku yang kemudian berakhir menyedihkan seperti ini. Persis seperti perkataan akhir yang diucapkan Ibu dulu.

“Ibu minta kamu ubah sikapmu. Rendahkan suaramu. Hormati dan hargai orang lain. Karena kita ini lemah. Selalu perlu bantuan orang lain. Jika kamu terus bersikap buruk seperti ini, pasti kamu akan menyesal. Mungkin anak cucumu akan mengikuti tingkah lakumu. Jangan sampai kamu merugi nanti.”

Begitulah ajaibnya seucap kata Ibu. Tidak detik itu terwujud. Tapi berpuluh tahun kemudian. Saat kujelang masa tuaku yang dalam bayanganku akan indah dengan perhatian dan kasih sayang anak dan cucu. Namun ternyata kepedihan yang kualami. Aku diperlakukan sama seperti dulu aku memperlakukan Ibu dan Bapakku.

Badai penyesalan terus bergemuruh. Dalam diamku. Dalam sunyi dunia senjaku. Dalam pedih perih luka lebam yang harus kutanggung sendiri. Semoga taubat yang tak henti kusampaikan melangit riuh di sisa usia yang entah kapan akan bersua akhir, Kau dengar dan Kau terima, yaa ghofururrohim.

Jumat, 16 Oktober 2020
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan