Selamat Hari Raya Idul Fitri

Ayah, Lihatlah Lebaran Tahun Ini oleh Emmy Herlina

Ayah, Lihatlah Lebaran Tahun Ini

Assalamualaikum, Ayah. Apa kabarnya dirimu? Semoga baik-baik saja di sana, Ayah. Ah, kuyakin dirimu jauh lebih baik di sana. Daripada harus mengalami situasi yang sedang berlangsung di dunia saat ini.

Ayah, masih ingatkah hari-hari kita melewati lebaran seperti biasanya? Kau akan mengajak kami sekeluarga untuk beribadah di masjid terdekat. Kadang pernah juga kita melaksanakan salat Idul Fitri di lapangan. Tak lupa menyiapkan koran sebagai alas sajadah.

Tentu saja aku masih mengingat semuanya. Tatkala dirimu terbiasa menjadi imam di masjid, juga pernah menjadi imam salat ied. Kau tahu kubegitu bangga padamu ayah. Tak banyak orang memiliki ayah seorang hafiz. Tapi di mataku kau adalah panutan seorang imam yang baik. Imam yang tak tergantikan siapapun jua.

Tapi lihatlah lebaran tahun ini, Ayah. Suasana begitu berbeda dari yang biasanya. Tidak ada yang bisa meramalkan sebelumnya. Kali ini wabah sudah mendunia hingga di daerah kita, Ayah.

Andai kau bisa menyaksikan, Ayah. Masjid dan semua tempat ibadah menjadi sepi. Pemerintah menganjurkan untuk beribadah di rumah masing-masing. Ada larangan berkerumun termasuk melaksanakan salat ied di lapangan. Kalaupun masih ada yang menjalankan ibadah, namun dengan tanpa melepaskan maskernya.

Iya, Ayah. Situasi ini sudah berjalan lebih dari dua bulan. Jauh dari sebelum Ramadan tiba. Anak-anak disekolahkan di rumah. Sebagian pekerja menjalankan WFH (work from home). Mirisnya lagi di beberapa tempat terjadi penyusutan pegawai sehingga banyak orang kehilangan pekerjaannya.

Semua ini karena Corona, Ayah. Virus yang baru muncul di akhir tahun 2019, sehingga dinamakan Covid-19. Virus yang begitu berbahaya, hingga kegiatan kita ke luar rumah perlu dibatasi. Entah sampai kapan wabah kan berakhir, aku pun tak tahu, Ayah. Hanya bisa berharap dan terus mendoakan yang terbaik. Baca di https://parapecintaliterasi.com/jangan-katakan-indonesia-terserah-bila-ingin-memberantas-wabah-oleh-emmy-herlina/

Maka, kami pun melaksanakan ibadah di rumah saja, Ayah. Beruntung aku bisa bergabung ikut salat Ied bersama dengan papa mertua. Beruntung rumah kami dekat. Beruntung aku bisa mengajak anak-anakku, cucu-cucumu untuk ikut serta berjamaah bersama. Beruntung tak hanya itu, aku pun mengajak bunda ikut salat berjamaah bersama, Ayah. Beruntungnya aku masih punya mertua.

Ayah, andai kau melihat semua ini, apa yang akan kau katakan, Ayah? Ayah yang kukenal adalah seorang yang kritis. Seorang ayah yang mempunyai pemikiran cemerlang dan hidup penuh keteraturan. Apakah kau akan mengkritisi semua yang telanjur terjadi di dunia ini, Ayah?

Ayah, aku takkan lupa mengucapkan selamat hari lahir, Ayah. Kali ini hari kelahiranmu berbarengan dengan tibanya 1 Syawal. Karena dirimu hanya selang sehari dari miladnya Farris, anakku. Baca di: https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-30-selamat-ulang-tahun-sayang-oleh-emmy-herlina/

Iya, Ayah. Aku, anak bungsumu, juga mempunyai anak laki-laki. Kau yang sangat menyukai anak laki-laki, pasti ikut bangga denganku, kan, Ayah?

Ayah, sudah lama aku tak mengunjungi peristirahatan terakhirmu. Tapi aku selalu mendoakanmu dari sini. Lagipula kutahu, hanya jasadmu yang ada di sana. Dirimu yang sebenarnya selalu ada di hati keluarga yang sangat mencintaimu.

Ayah, kubayangkan diriku mencium tanganmu, di tengah suasana lebaran dalam episode kembali fitri. Sudah 8 tahun berlalu dan aku masih merindukanmu. Suatu saat kita pasti akan berkumpul kembali, Ayah. Di saat itu, kupastikan aku pasti telah membuatmu bangga. Aku pasti sudah mencapai deretan impian menjadi penerusmu yang mengharumkan nama bangsa dan agama.

Doakan aku dari atas sana, Ayah. You will always be my most beloved man.

Bandar Lampung, 7 Syawal 1441 H, tujuh hari setelah tanggal miladmu.

nulisbareng/EmmyHerlina

Foto Buku Jangan Mudah Mengeluh
Sumber dokumen pribadi

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan