Hantu

Aula Lantai 23 oleh Athena Hulya

Aula Lantai 23

            Pertemuan dengan kantor pusat dan klien-klien perusahaan membuat aku dan tim sibuk mengurus segala keperluan yang dibutuhkan, termasuk mengurus venue acara yang akan diadakan di aula kantor. Gedung kantorku terletak di pinggir jalan dan mempunyai 24 lantai memanglah termasuk angker dibandingkan deretan gedung yang lainnya, gedung ini belum termasuk dalam gedung tua namun di setiap lantainya terdapat hantu-hantu yang seperti hantu belanda, termasuk di aula.

            Aku yang selalu skeptis terhadap semua hal, tidak begitu langsung percaya dengan adanya hantu noni belanda di aula. Walau aku mempercayai adanya hantu di lantai 16 letak departemenku berada.

            “Pak, tolong bukakan aula lantai 23 ya, saya mau cek,” ucapku pada seorang satpam,

            “Sekarang, Bu?”

            “Iyaa! Kalau sudah nanti saya ke atas,”

            Satpam itu kembali mengulang pertanyaannya, “Sekarang? Tapi kan ini sudah malam, Bu?”

            “Ya terus kenapa? Seharusnya saya mengecek aula tadi siang, tapi saya baru pulang dari perjalanan dinas.”

            “Saya takut, Bu! Bagaimana kalau kita buka aulanya sama-sama, Bu? Atau tidak besok pagi saja, Bu?”

            “Besok siang kan sudah harus dipakai. Takut noni belanda, ya? Haha.”

            “Iya, Bu. Dia nampakin dirinya di jam-jam segini.”

            “Yowis, saya temani ke atas! Sekalian saya mau kenalan sama noni belanda yang terkenal itu. Eh katanya noninya cantik ya, Pak? Penasaran saya,” ucapku meledek bapak satpam.

            “Memang cantik, Bu. Tapi kalau setan ya tetap saja seram, Bu!”

Kreeekk, pintu aula terbuka. Tercium aroma lembab ruangan yang sudah lama tidak terpakai. Saat memasuki aula, terasa dingin padahal AC baru saja dinyalakan. Mungkin saja karena lembab dan jarang dipakai jadinya dingin, pikirku. Pak satpam sedari tadi tidak berani masuk, hanya berdiri di depan pintu menungguku mengecek aula .

“Saya sudah selesai, Pak. Yuk, turun,”

Saat pak satpam berjalan menuju saklar lampu, tiba-tiba lampu-lampu di ruangan tersebut mati dengan sendirinya. Dengan wajah ketakutan, ia menyuruhku untuk segera bergegas meninggalkan aula.

“Besok pagi, tolong minta pengelola gedung mengganti lampu-lampu aula itu, ya, Pak!”

***

“Bu, barusan lampu-lampu di aula dicek oleh maintenance, tapi tidak ada yang rusak,” ucap seorang satpam yang berjaga di pagi hari.

“Masa? Semalam lampu-lampunya mati sendiri, Pak!”

Eric dan anggota timku yang lainnya menceletuk, “yang matiin lampunya si noni kali, Bu!”

Acara pertemuan akan segera dimulai, seluruh karyawan dan klien-klien telah berkumpul di aula. Acara tersebut berlangsung hingga pukul 20:00 tanpa ada hal-hal yang menakutkan, hanya saja selepas Isya hawa ruangan tersebut agak sedikit berbeda, membuat merinding.

Waktu menunjukan pukul 21:45, seluruh tamu undangan dan karyawan-karyawan lain sudah pulang. Tersisa aku, Eric, Cellin dan pak Satpam yang kemarin malam menemaniku ke aula sedang asyik mengobrol. Sedari orang-orang pulang, ada satu sosok yang terlihat wara-wiri dalam ruangan, namun bukanlah noni belanda itu. Ia berupa bayangan hitam.

            Eric yang mulai merasakan hal aneh, menyuruh kami segera turun ke bawah. Cellin dan pak satpam diminta turun terlebih dahulu karena ia meminta bantuanku untuk membuang sampah bekas makanan kami berempat. Aku yang penasaran dengan noni belanda yang selalu menjadi perbincangan karyawan-karyawan itu bertanya pada Eric, “kok, enggak keluar, ya?”

“Siapa? Noni?”

“Iya, penasaran pengin lihat, loh!”

“Itu dari tadi ada di pojokan lihatin kita ngobrol!”

“Mana? Gue cuma lihat bayangan hitam saja, enggak ada yang lain.”

“Udah jangan ngomongin, nanti beneran muncul, loh!” ucap Eric, sambil menarik pintu yang hendak ditutupnya.

Goedenavond, Non!” teriakku, goedenavond adalah bahasa belanda dari “Selamat Malam” yang dipergunakan pada pukul 18:00 – 23:00. Beberapa detik setelah aku mengucapkan selamat malam dari dalam ruangan terdengan suara lirih mengucapkan kata yang sama ‘Goedenavond’.

Dari balik tembok terlihat sosok yang menembus keluar, mengarah ke arah toilet. Sosok itu berpakaian gaun hijau lusuh dengan rambut ikal terikat rapi. Baru kutahu, kalau sosok itulah Noni Belanda. Aku dan Eric hanya terdiam melihat ia menembus tembok dan tidak menapak tanah.

11 Juli 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan