Hujan di RS

Arti dari Perjuangan Mengemudi (Emmy Herlina)

Arti dari Perjuangan Mengemudi

“Gigi dua, Bu.”
“Kopling dulu, baru rem.”
“Setirnya kurang ke kiri.”

Segera saja bulir keringat segede-gede jagung mengaliri mulai dari dari dahi, pelipis, tengkuk, rasanya ikut membasahi lengan hingga jemari. Waduh, tak bisa kubiarkan jari-jariku terasa basah, yang ada nanti memegang kemudi jadi tak nyaman. Jalanan ini terasa bagai momok yang mengerikan. Motor, mobil yang lalu-lalang membuatku semakin kagok.

“Gasnya mana, Bu? Kok, hilang?”

Hadeuh, lelaki di sampingku ini bukannya membantu malah membuat semakin grogi. Hei, kan aku yang membayarmu, Dek. Ingin protes namun sepertinya nanti saja tunggu mobil ini berhenti dulu. Masih kulajukan sesuai dengan instruksi. Aku tak mungkin menyerah sampai di sini. Perjuangan belum selesai.

Perjuangan? Iya. Belajar mengemudi itu sebuah perjuangan bagiku!

Ah, benar juga, sih. Karena dibutuhkan ketepatan waktu dalam mengoper gigi, menyelaraskan injakan kopling, rem dan gas, memperhatikan jalan dari segala arah, tak hanya depan, tapi juga ketiga kaca spion. Serta tak lupa memerhatikan aturan jalan, seperti polisi dan lampu lalu lintas, begitu, kan?

Ya. Tapi perjuangan bagiku saat belajar mengemudi tak hanya itu saja.

Pernahkah kamu melihat korban kecelakaan lalu lintas? Pernah menyaksikan deretan korban dikarenakan kecelakaan beruntun, yang mengenai sebuah angkutan umum? Pernah menyaksikan korban itu akhirnya meregang nyawa dan tak bisa diselamatkan?

Aku pernah. Beberapa tahun lalu, aku pernah bekerja di sebuah Instalasi Gawat Darurat. Beragam pasien dengan bermacam-macam diagnosa telah kutemui. Kematian di depan mata banyak kusaksikan. Perawatan jenazah pun sering kulakukan.

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/seandainya-para-pekerja-wfh-work-from-hospital-kelelahan-oleh-emmy-herlina/

“Hmm, mobilnya matic saja, tidak usah manual.”

Bagaimana kalau yang tersedia di rumah hanya ada mobil manual?

“Makanya belajar bawa motor dulu baru belajar mobil.”

Bagaimana kalau mengendarai motor pun tidak bisa?

“Kan, gampang, belajar motor sekarang. Banyak yang matic.”

Bagaimana kalau bahkan mengendarai sepeda pun tidak bisa?

Iya, aku tidak bisa bersepeda, apalagi mengendarai motor. Aku tidak punya mobil jenis matic, sehingga yang kupelajari langsung jenis manual. Aku belajar itu semua beserta semua pengalamanku menyaksikan korban kecelakaan yang tak mungkin serta merta kuhapus dari ingatan.

“Alah, buktinya banyak petugas UGD yang bawa kendaraan. Buktinya banyak juga yang pernah alami kecelakaan lalu masih membawa kendaraan setelahnya.”

Iya, tapi bagaimana bila seseorang itu penderita anxiety disorder. Gangguan kecemasan tingkat tinggi bahkan menakuti hal yang belum tentu terjadi.

Pertanyaan, “bagaimana kalau …,” seringkali mampir di benakku. Seperti bisikan yang terngiang-ngiang di telinga. Mengambil keputusan saja sudah merupakan momok tersendiri hingga seringkali kubiarkan orang lain yang mengambilkan keputusan untukku (dulu orang tua, lalu suami, kalau di tempat kerja, berarti teman kerja dan atasan). Merasa diri tidak berhak menyuarakan pendapat, kerdil sekali di hadapan pimpinan, hingga menurut saja ketika dimutasi berulang kali. (seperti yang kutuliskan dalam I Deserve to be a Manager oleh Emmy Herlina, sebuah event Nubar Sumatera; Kalian Luar Biasa)

Parahnya lagi perasaan tak berdaya dan tidak berharga yang kadang membisikkan keinginanku melakukan self injury. (seperti yang kutuliskan dalam Berdamai dengan Jiwa oleh Emmy Herlina, sebuah event Nubar Sumatera, Ketika Jiwa Lahir Kembali).

Iya, aku mengalami itu semua. Maka perjuangan dalam mengemudi bagiku tak hanya ketika harus mempelajari semua instruksi yang diberikan, tapi juga bagaimana caraku melawan diri sendiri.

Perjuangan sesungguhnya adalah berjuang melawan diri sendiri, dan itu sangat tidak mudah.

Wajar, kan, bila akhirnya kutuliskan serpihan perjalanan ini dalam 12 Hari di Balik Kemudi, sebuah cerita di Wattpad? Tulisan bisa dibaca di https://my.w.tt/siuKR2jIh7

(Termasuk kalian yang penasaran siapakah gerangan yang kupanggil “Dek” di awal tadi, temukan jawabannya di wattpad tulisanemmy, hihi)

Salah satu ceritaku saat sedang mengemudi

Bandar Lampung, 14 Juni 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan