ANXIETY oleh Rinaksih Widiarsanti

ANXIETY
Rinaksih Widiarsanti

Anak sulung saya perempuan, sekarang duduk di kelas XII SMK jurusan Boga. Dari kecil sangat mandiri. Pada umur empat tahun, minta diajari membaca, supaya bisa mengirim sms kepada ayahnya yang bekerja di luar kota.

Waktu sekolah TK, dari hari pertama tidak mau diantar dan dijemput. Jarak dari rumah ke TK sekitar satu kilometer, tetapi harus menyeberang jalan besar. Katanya, bisa minta tolong orang untuk menyeberang.

Waktu SD, tiap kali gigi susunya goyang-goyang mau tanggal, dia ke puskesmas sendiri untuk mencabut giginya itu. Dia tetap pergi ke sekolah, kemudian saat istirahat minta izin pergi ke puskesmas. Selesai mencabut gigi, dia kembali ke sekolah.

Di SMP, anak saya di-bully karena kemandiriannya itu. Dia biasa ke kantin, perpustakaan atau musala sendiri, tidak harus ditemani. Teman-temannya menganggap itu adalah suatu kesombongan. Tetapi anak saya tidak terlalu memikirkan hal itu.

Anak saya pernah ke rumah neneknya naik bus sendiri. Waktu itu dia baru saja lulus SD. Jarak dari rumah ke rumah neneknya adalah empat puluh dua kilometer, ditempuh selama dua jam.

Bulan lalu saat umurnya genap tujuh belas tahun, dia juga mengurus KTP sendiri. Mendaftar online sendiri ke Kantor Catatan Sipil dan berangkat ke sana sendiri. Besok rencananya juga mau mengurus SIM sendiri.

Banyak yang mengatakan saya adalah seorang ibu yang tegaan. Namun menurut saya, kalau itu kemauan anak saya sendiri dan dia memang mampu, mengapa tidak saya dukung? Saya tidak pernah menuntut anak saya untuk selalu melakukan semuanya sendiri. Toh, kalau memang ada hal yang tidak mampu dilakukan sendiri, anak saya juga meminta tolong kepada saya.

Di sisi lain, ada juga kemandirian anak saya yang membuat saya menangis. Beberapa hari yang lalu, anak saya pamit ke rumah temannya. Siangnya dia menghubungi saya.

“Mama, aku di RS.”
“Kenapa? Sakit?”
“Sedang antri di Poli Psikologi.”
“Mengapa ke psikolog?”
“Aku anxiety.”
“Tahu dari mana?”
“Aku sudah periksa ke puskesmas dan dirujuk ke RS.”

Saya langsung menangis. Saya menyusul anak saya ke RS. Anak saya tenang-tenang saja, padahal saya panik sekali. Saya menghubungi teman saya yang psikolog. Katanya, anak saya sudah melakukan tindakan yang hebat . Merasa ada yang tidak beres dan langsung mencari pertolongan ke tempat yang tepat. Tetapi, dari mana dia tahu tentang penyakit kejiwaan? Teman saya heran.

Awalnya saya juga heran. Namun kemudian saya ingat, kalau anak saya ikut menjadi Volunteer Kesehatan Jiwa dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2020. Ada sekitar 35.000 orang dari seluruh Indonesia yang juga menjadi volunteer. Para volunteer ini bertugas antara lain memberi edukasi dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Anak saya akhirnya diperiksa psikolog dan mendapat obat. Belum diketahui secara pasti penyebab anxiety pada dirinya karena baru pemeriksaan satu kali itu. Yang jelas, kali ini saya tidak akan membiarkan anak saya sendiri menghadapi anxiety.

Saya akan terus mendampingi. Saya yakin anak saya akan bisa mengatasinya. Tentu saja didukung dengan pengobatan yang tepat, semangat dan doa.

Nulisbareng/RinaksihWidiarsanti

0Shares

Tinggalkan Balasan