Ayah dan Anak

Anak Durhaka versus Kisah Ismail bin Ibrahim (Emmy Herlina)

Anak Durhaka versus Kisah Ismail bin Ibrahim

Apa yang terbersit dalam benak teman-teman saat mendengar istilah “Anak Durhaka”? Sebuah cerita dongeng dari provinsi Sumatera Barat yang terkenal itu atau kelakuan generasi Z yang kadang bikin geleng-geleng kepala?

Namun, sebelum kita membahasnya, baiknya kuucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha” untuk teman-teman yang merayakannya. Kebetulan sekali, hari ini, bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1441 H, umat Islam sedang memperingati hari raya yang identik dengan perintah berkurban. Ya, Idul Adha memang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji ke Makkah -yang sayangnya tahun ini keberangkatan ditiadakan berhubung adanya pandemi wabah Covid19– juga adanya pelaksanaan berkurban bagi yang mampu. Makanya nama lain dari hari raya Idul Adha bisa disebut juga Idul Kurban.  

Sumber: IDNTimes

Kenapa ada ketentuan untuk melaksanakan kurban? Semua tak lepas dari sejarah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Teman-teman masih ingatkah kisahnya?

Nabi Ibrahim AS adalah seorang nabi yang diuji keimanannya oleh Allah swt dalam sebuah mimpi untuk menyembelih putranya. Seperti yang tertera dalam ayat Alquran berikut ini:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘hai, Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘hai, Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)

Bayangkan, kita di posisi orang tua jika mendapatkan perintah layaknya Nabi Ibrahim, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana juga kita dalam posisi sebagai anak, mendengar perintah Allah yang demikian, apa yang akan kita lakukan?

Sebagaimana Nabi Ibrahim membuktikan ketakwaannya, putranya, Nabi Ismail membuktikan keikhlasannya dalam menerima apapun ketentuan Allah untuknya. Dia meyakinkan ayahnya untuk tetap melaksanakan perintah Allah tersebut, sesuatu yang mungkin berada di luar nalar manusia.

Kedua nabi mulia ini memang memberikan pelajaran berharga tentang makna berkurban. Qadarullah, di akhir cerita, Nabi Ismail pun selamat, tergantikan oleh seekor kambing yang disembelih sang ayah, menjadi awal mula perintah berkurban di hari raya Idul Adha.

Apa yang dilakukan Nabi Ismail adalah bukti ketaatannya kepada Allah swt dan sebagai anak. Kebalikannya, anak durhaka pastilah akan berbuat hal yang bertolakbelakang dengan sikap Nabi Ismail.

Durhaka, menurut pengertian KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adalah ingkar, baik ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya) maupun tidak setia kepada kekuasaan yang sah (negara). Sikap durhaka sejatinya akan berbanding lurus, baik ingkar kepada perintah orang tua, negara dan agama.

“Maka sekali-kali, janganlah kamu mengatakan kepada keduanya, ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka.” (QS. Al-Isra: 23).

Kata al-‘uquuq (durhaka) berasal dari kata al-‘aqq yang berarti asy-syaq (mematahkan) dan  al-qath’u (memotong), Jadi seorang anak dikatakan telah durhaka kepada orang tuanya jika dia tidak patuh dan tidak berbuat baik kepadanya, atau dalam bahasa Arab disebut al-‘aaq (anak yang durhaka). Sementara yang dimaksud dengan al-‘uquuq (durhaka) adalah mematahkan “tongkat” ketaatan dan “memotong” tali silaturahmi antara seorang anak dengan kedua orang tuanya. (Sumber: Afrakids).

Lalu, bagaimana seorang anak bisa bersikap durhaka kepada orang tuanya? Apakah betul semua murni karena kesalahan si anak sendiri?

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Bukankah setiap anak dilahirkan bagai sehelai kertas putih, suci tak berdosa. Kemudian orang tua atau siapapun yang mengasuhnya, menorehkan tinta mengisi kertas putih tersebut. Apakah kelak akan berisi tulisan yang indah atau goresan tak bermakna, tergantung dari asuhan yang diterima sang anak.

Coba teman-teman simak kembali kata-kata nabi Ibrahim dalam ayat Alquran yang dituliskan di awal. Setelah mendapatkan mimpi, beliau tidak serta merta langsung menyembelih anaknya, lihat apa yang dilakukan nabi Ibrahim sebelumnya? Beliau menanyakan pendapat anaknya tentang mimpi tersebut. Sekalipun dia adalah orang tua, dan Ismail adalah putranya, Nabi Ibrahim tak luput menanyakan pendapat anaknya terlebih dulu. Dia “mendengarkan” anaknya, maka pantaslah Ismail pun mendengarkan apa yang diucapkan ayahnya.

Kembali dengan diri kita sendiri sebagai orang tua, sudahkah kita mendengarkan anak-anak kita? Anak adalah amanah dari Allah swt yang harus kita jaga sebaik-baiknya. Menjaga bukan sekadar menerapkan kewajiban memberi makan dan minum (asuh) serta kasih sayang yang berlimpah (asih), orang tua juga bertanggungjawab pada perkembangan sang anak, mendidik dan mengarahkan bakatnya (asah), mengajarkannya untuk taat kepada Allah swt. Seperti makna perintah berkurban yang menyadarkan kita bahwa semua adalah titipan, termasuk anak kita sendiri. Jadi, orang tua selayaknya tidak bersikap “semau gue” kepada anaknya.  Menjadi orang tua tentu ada aturannya sendiri, sebagaimana menjadi seorang anak.

Maka bisa jadi, anak durhaka tercipta dikarenakan orang tuanya yang terlebih dulu ingkar kepada perintah Allah swt. Naudzubillah min dzalik.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak-anak mungkin tidak selalu menuruti perintah orang tuanya, namun mereka tidak pernah gagal dalam meniru. Bagaimanapun orang tua adalah pondasi pertama bagi keutuhan di dalam rumah. Semua bermula dari orang tua yang selayaknya bisa memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya.

Seperti Ismail yang layak bersikap patuh, karena meniru ketaatan dari sang ayahanda. Semoga kita bisa berlaku sebagai orang tua yang baik untuk anak-anak kita dan senantiasa menjadi anak yang taat kepada orang tua kita. Wallahualam bishowab.

Bandar Lampung, 31 Juli 2020 (10 Dzulhijjah 1441 H)

Daftar Pustaka:
Anonim. 2014. Afrakids: 7 Ciri Anak Durhaka. https://afrakids.com/7-ciri-anak-durhaka/. Diakses tanggal 31 Juli 2020.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan