Aku Mencintaimu Wahai Diri oleh Nopiranti

Aku Mencintaimu Wahai Diri

(Nopiranti)

Lewat event antologi cerpen bersama Nubar Rumedia yang bertema Cerita Si Gadis, saya tahu beliau. Sejak berteman di FB, saya lebih banyak membaca tentang sosok mengagumkan ini, Mbak Ribka Imari, seorang penyintas depresi dan bipolar serta gangguan Inner Child.

Hampir semua statusnya selalu menambah wawasan saya, menghadirkan inspirasi, dan menggelorakan motivasi untuk terus berjuang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dari pengalaman pribadi beliau yang dituangkan dalam tuliskan, saya mendapat pencerahan. Ternyata saya tidak sendiri. Banyak di luar sana yang juga mengalami guncangan psikologis pada waktu kecil yang meninggalkan trauma mendalam hingga mengganggu proses tumbuh kembang hingga dewasa.

Keterbukaan, keberanian, dan ketegaran Mbak Ribka Imari untuk berbagi dengan banyak orang tentang kisah masa lalunya yang kelam, justru mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan. Tidak hanya untuk penyembuhan diri beliau sendiri, tapi juga untuk orang-orang sekitar yang mengenal beliau. Baik kenal di dunia nyata maupun hanya sekadar tahu sepintar di dunia maya.

Contohnya saya salah satu yang merasakan manfaat besar dari ilmu-ilmu yang sering beliau bagi di beranda FB-nya. Barakallah, Mbak Ribka.

Gendut dan berkulit gelap. Kondisi inilah yang membuat saya selalu merasa minder untuk bersosialisasi. Bukan hanya di luar rumah dengan begitu banyak orang yang lalu lalang. Sekadar untuk keluar kamar saat ada kerabat atau tamu lain yang datang ke rumah juga saya butuh kekuatan maha hebat untuk bisa melakukannya.

Jangankan untuk bercerita banyak tentang perasaan, untuk senyum dan berbagi sapa dengan orang rumah pun saya sering kesulitan. Apalagi dengan orang lain, seringnya saya hanya bisa menjadi pengamat bisu di kejauhan.

Bertahun-tahun kondisi sulit ini saya alami. Keinginan untuk memiliki ukuran badan ideal membuat saya beberapa kali melakukan hal konyol yang membahayakan jiwa. Semakin dewasa usia, semakin saya merasa tersiksa. Sebab semakin saya ingin mengurangi makan, justru dorongan untuk melanggar itu semakin kuat. Saya tetap makan apapun yang saya mau. Namun setelah itu saya muntahkan lagi. Sambil nangis menahan sakit dan kecewa karena merasa menjadi orang yang payah dan gagal. Pernah juga saya minum obat pelangsing berlebihan sampai hampir pingsan dan hilang kesadaran sserta berakhir dengan menderita sakit tipus.

Saya tidak punya banyak teman. Dari SD sampai SMA, teman saya itu-itu saja. Nambah sedikit saat kuliah. Nambah sedikit lagi ketika sudah bekerja dan menikah. Saya tidak pernah bisa lepas saat berteman. Selalu menjaga jarak.

Semua resah dan gelisah (kok kayak lirik lagu yang hits pada masanya ya? Hahay), saya simpan sendiri di dalam hati. Sampai sering terasa sesak dan sakit dada ini menahan rasa yang tak sanggup diutarakan.
Beruntung saya kenal dengan aksara, pena, dan kertas. Berkat jasa seorang guru SD yang pernah mengajarkan menulis puisi. Sejak saat itu saya bisa sedikit menyalurkan perasaan yang tak sanggup diungkapkan secara lisan, lewat tulisan.

Lumayan mengurangi sesak dan sakit. Walau tetap bukan solusi terbaik. Karena komunikasi verbal dengan kontak mata dan sentuhan raga, jauh lebih efektif untuk menguraikan segala perasaan itu.

Perkenalan saya dengan teman-teman pengajian saat kuliah, memberikan pencerahan baru bagi jiwa dan raga saya. Meski masih tetap kesulitan berkomunikasi, bersosialisasi, menjaga jarak, dan tak pernah bisa bebas lepas saat berteman, namun kebersamaan dengan teman-teman hebat ini membuat saya jauh lebih tenang.

Berkat ilmu yang banyak dibagi di majelis ini, saya jadi punya tempat curhat lain selain menulis yaitu lewat doa di berbagai ibadah yang saya kerjakan.

Setelah menikah, saya mengalami lagi guncangan psikologis. Perbedaan ritme hidup saat lajang dan sesudah mengarungi biduk rumah tangga, membuat saya terjatuh lagi ke titik dasar. Saya kembali menyendiri, menarik diri dari dunia luar, tak lagi menyentuh dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Bahkan dengan aksara, pena, dan kertas pun saya berjarak sangat jauh waktu itu. Putus hubungan sama sekali.

Saya sakit, secara kejiwaan. Namun, saya tak punya cukup keberanian untuk berbagi dan meminta bantuan. Saya telan sendiri pahit itu. Hingga akibatnya berimbas pada anak-anak. Saya cenderung kasar memperlakukan mereka.

Anak pertama masih biasa. Saya masih kuat bertahan. Masih besar kadar kesabaran dan kewarasan saya. Namun saat hamil anak kedua, tekanan itu terasa semakin berat.

Saya jalani kehamilan dalam diam. Tanpa banyak menjalin komunikasi dengan janin. Saya banyak mengeluh. Saya bahkan sempat menolak kehadirannnya.
Hingga bayi lucu itu lahir. Perasaan saya masih belum normal. Saya masih menolaknya. Saya malas-malasan mengurusnya.

Sampai hari ini setelah saya sadari ternyata sedikit sekali tersimpan kenangan tentang dia di benak saya saat dia masih bayi. Karena dulu saya justru merasa senang dan tenang lepas dari beban saat dia lebih banyak bersama Bapak mertua yang selalu bersedia menjaganya jika saya bekerja.

Kesadaran saya mulai bangkit saat anak kedua ini masih belum bisa bicara saat usianya sudah tiga tahun. saat itu saya mulai dilanda cemas. Khawatir mulai melanda. Takut terjadi hal yang buruk pada anak saya.

Meski belum sepenuhnya perasaan saya utuh tercurah untuk anak kedua ini, tapi saya sudah mulai bisa menjalin hubungan yang lebih intens dengannya.

Ujian baru dimulai. Semakin saya dekat dengannya, semakin saya menyadari kalau anak ini mengalami gangguan psikologis. Dia cenderung mudah panik, penakut, tidak sabaran, selalu ingin dituruti segala kemauannya, dan sulit dikendalikan jika sudah menangis. Persis seperti kondisi saya waktu hamil dia dulu.

Puncaknya adalah saat anak kedua ini mengalami kesulitan membaca ketika sudah waktunya masuk sekolah. Dia panik, ketakutan, sulit berkonsentrasi, lambat mengenali huruf, dan selalu tertukar-tukar antara satu huruf dengan huruf lain.

Kembali saya stress. Saya harus menghadapi ini sendiri lagi. Karena anak hanya mau diajari oleh saya. Meski saya dilanda ketidaksabaran dan sering berlaku kasar padanya saat mengajarinya menulis dan membaca, tapi tetap dia tak mau lepas dari saya. Semakin saya berusaha lepas dari jangkauannya, semakin erat dia berpegang pada saya.

Tekanan itu sungguh berat. Ada banyak air mata yang menemani saat-saat kami berdua belajar menulis dan membaca. Sampai saya merasa lelah dan ingin menyerah.

Namun sebuah teguran hebat menyadarkan saya. Ingatan pada almarhumah Mamah membawa perubahan besar yang mengantarkan saya pada keinginan untuk mulai memperbaiki keadaan.

Saya disadarkan bahwa dulu saya juga begitu sulit lepas dari bayang-bayang Mamah. Saya sudah banyak menyulitkan Mamah dengan kelakuan saya yang sulit mandiri. Ya itu tadi karena kondisi fisik yang selalu membuat saya minder dan malu.

Istigfar saya sore itu memohon ampun pada Allah dan memohon agar Allah menyampaikan permintaan maaf saya pada almarhumah Mamah. Jika ujian ini sebagai pengingat saya akan kesalahan pada Mamah dulu, saya memohon pada Allah agar diberi jalan kemudahan untuk memperbaiki keadaan.

Saya lalu belajar menerima keadaan dengan lapang dada. Saya coba belajar rida dengan apapun kondisi anak saya. Supaya Allah juga rida pada saya dan anak saya. Sebab sejatinya bukan anak yang salah. Dia hanya korban dari keegoisan dan kelamahan diri saya sebagai seorang Ibu.

Maka saya mulai perbaiki semuanya kekacauan ini dengan memperbaiki kondisi diri dulu. Saya berjuang keras untuk tulus ikhlas menerima diri saya sendiri, apapun fakta dan rasa yang ada.

Saya belajar mensyukuri kondisi yang menyapa. Menjalaninya dengan penuh prasangka baik dan kebahagiaan. Mencintai setiap detik dan setiap momen yang tercipta sebagai keindahan kasih sayang Allah.

Saat saya sudah bisa lega menerima diri sendiri beserta segala hal yang Allah takdirkan menyertainya, saya jadi merasa lebih tenang untuk menerima dengan baik semua yang bersinggungan dengan kehidupan saya. Termasuk menerima kehadiran anak kedua dengan segala kondisinya yang ternyata istimewa saat Allah sudah menunjukan cara tepat pada saya bagaimana memperlakukannya dengan baik.

Saya cerita ini bukan untuk mengumbar aib diri sendiri dan anak saya. Saya hanya ingin berbagi pengalaman. Berharap pembaca yang sedang mengalami hal serupa, semoga bisa mengambil pelajaran dan inspirasi dari kisah yang saya alami ini.

Hanya pada Allah saja saya memohon semoga kita semua selalu sehat lahir batin dan merasa bahagia serta bersyukur terhadap diri sendiri. Katakan pada bayanganmu di depan cermin dengan lantang namun penuh kelembutan dan kasih sayang: Aku Mencintaimu Wahai Diri.

Peluklah diri sendiri dengan erat. Berikan penghargaan terbaik untuknya. Karena dirimu hebat, unik, istimewa, luar biasa, dan tercipta untuk bahagia dalam limpahan cinta dan kasih sayang. Semangaaaat!

Selasa, 15 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan