Pemenang Naskah Ketelanjuran

5 NASKAH TERBAIK DALAM EVENT SPESIAL MILAD MA NUBAR SUMATERA

5 NASKAH TERBAIK DALAM EVENT SPESIAL MILAD MANAJER AREA NUBAR SUMATERA

Judul: Seni Menyikapi Ketelanjuran
Penulis: Emmy Herlina, dkk
Penerbit: CV Rumah Media (sedang proses pengeditan)

Masih ingat event ini? Kalau lupa, silakan baca kembali di sini, ya: https://rumahmediagrup.com/2020/03/21/saat-semua-sudah-telanjur-bagaimana-menyikapinya-event-spesial-milad-ma-sumatera/

Yup, ini adalah event spesial Nubar Area Sumatera, komunitas yang saya pegang, yang saya adakan dalam rangka memperingati milad saya. Sesuai yang saya janjikan, ada yang berbeda dari event ini.

Yang pertama, beberapa kontributor akan mendapatkan buku-buku Nubar secara free dari saya. Hanya dengan mendaftar di event ini saja, sudah berhak untuk mendapatkan hadiah. Luar biasa, kan!

Kedua, kalau event Nubar hanya akan menghasilkan satu naskah pilihan yang berhak dapat piala, di dalam event ini saya menjanjikan tiga pemenang yang berhak mendapatkan buku solo saya secara free. Omagaahhh. Kurang apa, cobak!

Bahkan enggak cuma itu. Berhubung hanya sedikit yang mengikuti event ini dan kesemua naskahnya bagus-bagus, maka saya akhirnya memutuskan memilih 5 pemenang. Berkah Ramadan, masya Allah.

Jadi, siapakah kelima pemenang pilihan saya? Saya urutkan dari belakang, ya:

Entah malam ke berapa sudah ia tak sengaja buang air kecil di atas kasurnya. Entah perasaan apa yang merasukiku pada saat itu, cepat-cepat kugendong ia ke kamar mandi. Perutku yang besar karena sudah menginjak usia kehamilan 6 bulan membuatku sulit menggendong anak sulungku ini. Susah payah kugendong ia ke kamar mandi agar bisa dibersihkan dari najis kecil ini. Di kamar mandi bukannya terbangun, malah suara tangisan makin menjadi-jadi. Logika di dalam kepalaku tidak mampu berjalan, rasa marah kesal yang mendominasi di hatiku kala itu.
Aku mengeluarkan nada keras dan marah. “Tenang dong, Kak!” perintahku. Aku yang menyuruh tenang tidak kalah emosinya. Bagaimana kata tenang ini akan terlaksana oleh sang penerima taktala yang menyuruhnya pun tidak tenang. (Remedi Hati oleh Shafira Adlina)

Wah, selamat ya, Mbak Shafira. Tulisannya benar-benar menyentuh. Mengingatkan saya waktu masa-masa mengasuh anak penuh ujian, sebelum akhirnya belajar menjadi mindful. Simak di sini, buat yang kepo event apaan: https://rumahmediagrup.com/2020/05/07/siapakah-yang-ter-mindful-dalam-event-spesial-nubar-sumatera-mindfulness-parenting/

Nah, yang berikutnya:

Keinginan hijrah Miranda, sahabatku, layaknya sebuah permainan yoyo. Naik turun. Hari ini  bilang oke, besok sudah lain lagi keinginannya. Hari ini mengenakan hijab, besoknya sudah dicopot. 
“Tidak kuat aku dengar cibiran orang, Vin. Mereka bilang aku cuma cari sensasi, enggak ada dasarnya kalau aku hijrah,” kata Miranda sedih.
Sensasi? Memang siapa Miranda, dia bukan artis kok. Tapi untuk ukuran kota yang tidak begitu besar ini, memang tak sedikit orang mengenal Miranda dengan segala sensasinya. (Alkisah tentang Miranda oleh Ade Tauhid)

Wah, selamat ya, Mbak Ade. Ceritanya kereeen dan karakternya juga hidup. Memang tulisan Mbak Ade, bagus-bagus. Cari saja di web ini, banyak contoh tulisannya. Mana lagi beliau salah satu terpilih bulanan pada challenge yang sedang berlangsung, yang milih Pak Ilham langsung, loh.

Next, juara ketiga:

“Aku menyesal telah menerima lamarannya,” gerutu Rima dalam bisikan yang nyaris tak terdengar. Ia sama sekali tak menyangka bahwa suami yang dinikahi sangat jauh dari harapan. Mungkin hal sama pun sebenarnya dirasakan oleh laki-laki yang kini tengah tidur di atas ranjangnya.
“Ia tidak romantis, pelit, tidak peka, egois, dan … ternyata dirinya mengalami permasalahan seksual. Apa-apaan ini!” sergah Rima – masih dalam bisikan halusnya, “pasti karena keegoisan dialah yang menyebabkan Tuhan belum yakin untuk memberikan amanah-Nya.”
Berkali-kali setan mengipas-ngipasi perempuan itu untuk meminta cerai. Ia merasa usianya yang masih muda sangat mendukung untuk bisa mendapati laki-laki lain yang lebih baik dari suaminya. “Aku benci suamiku!” ujarnya, kemudian tangisnya kembali pecah. (Salahkah Keputusanku oleh Asri Susila Ningrum)

Wah, bukan lagi. Yang ini juga salah satu PJ-ku yang juga sudah pernah mendapatkan 2 piala Nubar. Yang satu karena berhasil jadi naskah terbaik di event Herbal, yang satunya karena menjadi pemenang challenge pribadi khusus area Sumatera. Wah, wah. Selamat ya Mbak Asri.

Lalu, juara kedua:

Apa yang sudah terjadi seringkali dikatakan telanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Kita mau sesali pun tetap begitulah adanya. Ketelanjuran tidak hanya datang dari sesuatu yang telah ada pada diri kita (tanpa kita kehendaki), namun bisa timbul saat kita khilaf, kurang pengetahuan bahkan lalai pada sesuatu juga bisa menimbulkan ketelanjuran.
Ketelanjuran ini sering beriringan dengan rasa penyesalan. Penyesalan seringkali terbawa hingga bertahun-tahun lamanya, saat kita tidak mampu memaafkan diri sendiri dan tidak berusaha mencari penyelesaian akan permasalahan tersebut. Bahkan yang paling dibutuhkan dari sikap ketelanjuran ini adalah rasa ikhlas pada situasi yang tidak menyenangkan akibat hal yang telah terjadi. (Kau yang Begitu Berharga oleh Dewi Adikara)

Aw. Aw. Tulisan ini ditujukan Mbak Dewi spesial untuk tokoh dalam novel soloku. Wah, jadi terhura. Mana pembahasannya dengan cara yang apik, membuatku ingin meneteskan air mata. Haha, namanya juga aku penulis baper, usai menyelesaikan novel Sasha pun, aku jadi uring-uringan selama berbulan-bulan! Haha. Selamat ya, Mbak Dewi.

Sudah, tak perlu berlama-lama, karena sudah pasti kepo, dengan juara pertama. Siapakah dia?

“Ingat ya, baru buat wedding di Indonesia. Nanti harus buat di Singapore juga. Jangan hamil dulu!”
Begitulah wejangan kakak ipar pada kami sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu singkat. Ya, singkat. Karena seminggu yang lalu, kami baru melangsungkan akad nikah dan dalam beberapa hari ke depan, saya harus kembali ke Jeddah melanjutkan kontrak kerja saya sebagai seorang pramugari maskapai setempat.
            “Dengar, tak? Jangan hamil dulu sampai nanti ambil cuti lagi dan buat wedding sederhana di Singapore. Okay? Baik-baik di sana.”
            Sekali lagi saya menerima ultimatum untuk tidak buru-buru hamil sebelum membuat pesta pernikahan sederhana di negara asal suami. “Baik, Kak. Saya tunggu sampai selesai wedding di Singapore, baru saya rencanakan kehamilan.” (Telanjur Hamil, Oh, No! oleh Re Reynilda)

Huwaaa, selamat yaa Mbak Rere. Siapa tak kenal Mamak multitalent satu ini. Sejak pertama kali tulisannya telah memikat saya sehingga berhasil menjadi juara satu di event Nubar Sumatera yang pertama kalinya, yaitu event Diary Emak Rempong. Beliau juga pernah menjadi juara kedua dalam challenge pribadiku, dan menjadi salah satu terpilih juga dalam challenge menulis nubar BLA batch 1.

Wah, keren-kereeen, kaan, kontributor area Sumatera yang kesemuanya ketjeh. Selamat yaaa, teman-teman bisa mendapatkan hadiah buku solo saya.

Nah, apakah itu berarti terbaik yang mendapatkan piala adalah orang yang sama? Belum tentu, hehe. Karena untuk peraih piala, yang menentukan adalah Pak Ilham. Tapi kemungkinan besar, adalah salah satu dari kelima terbaik ini, atau bisa jadi saya yang terpilih. Whaaatt? Huuu, maunyaaaa….

Wkwk, kabur ah, sebelum ditimpuk massa 😛

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan